CATATANMERAH.COM, PANGKAL PINANG — Babel Half Marathon 2026, ajang lari yang digadang-gadang sebagai salah satu event olahraga paling bergengsi di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, justru berujung polemik serius.
Event yang diselenggarakan oleh Yayasan Bangka Buana Cipta (BBC) ini menuai kritik tajam dari peserta akibat berbagai persoalan mendasar yang dinilai mencerminkan buruknya manajemen penyelenggaraan.
Babel Half Marathon 2026 diketahui berada di bawah naungan Yayasan Bangka Buana Cipta (BBC) dengan Ketua Umum Fifie Yulianita, dan digelar pada Januari 2026 di Pangkalpinang.
Ajang ini diikuti oleh 2.022 peserta dari berbagai daerah, tidak hanya dari Bangka Belitung, tetapi juga dari Jakarta, Palembang, dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa, dengan tiga kategori lomba yakni 5K, 10K, dan 21K.
Namun, besarnya animo peserta tidak berbanding lurus dengan kualitas pelaksanaan di lapangan.
Medali Finisher Tak Layak, Kurang dari 40 Persen
Salah satu keluhan paling menonjol adalah ketiadaan medali finisher. Panitia sebelumnya menjanjikan setiap peserta yang menyelesaikan lomba di semua kategori akan mendapatkan medali. Fakta di lapangan menunjukkan jumlah medali jauh dari cukup, bahkan diperkirakan kurang dari 40 persen peserta yang berhasil menerimanya setelah menyentuh garis finis.
Jersey Finisher 21K Nihil
Kekacauan berlanjut pada kategori 21K (half marathon). Selain jersey utama yang dibagikan sebelum lomba, panitia menjanjikan jersey khusus finisher bagi peserta yang berhasil menyelesaikan lomba dalam batas waktu (cut off time) 4 jam. Namun ketika lomba berakhir, jersey tersebut hanyabeberapa yang tersedia, menambah daftar janji yang tak terealisasi.
Water Station Krisis Air
Aspek keselamatan peserta pun dipertanyakan. Sejumlah water station kehabisan air, menyebabkan peserta tidak mendapatkan asupan cairan saat berlari. Ketika air akhirnya tersedia, kondisi di lapangan memprihatinkan: satu botol air dibagi untuk beberapa peserta, situasi yang dinilai berbahaya dalam event lari jarak jauh.
Doorprize Sekadar Gimik
Panitia juga menjanjikan berbagai doorprize bernilai tinggi, seperti jam Garmin, sepatu lari, earphone, hingga handphone, selain medali dan jersey. Namun hingga acara selesai, doorprize utama tersebut tidak jelas kapan dibagikan, memunculkan dugaan bahwa promosi hadiah hanya dijadikan alat menarik peserta.
Rute Kacau, Sportivitas Terciderai
Masalah paling fatal terjadi pada penunjuk arah dan pengamanan rute. Minimnya marshal dan petunjuk menyebabkan banyak peserta salah jalur.
Bahkan muncul kejanggalan serius: peserta yang hanya menempuh sekitar 8 kilometer justru finis lebih cepat dan tercatat unggul, sementara peserta kategori 10 kilometer harus menelan kekalahan akibat rute yang tidak sesuai.
“Kami tidak tahu mana jalur yang benar. Ini jelas merusak sportivitas lomba,” keluh sejumlah pelari.
Tanpa Catatan Waktu Tempuh
Berbeda dengan standar lomba lari profesional, panitia tidak menyediakan data waktu tempuh peserta saat finis. Padahal, pencatatan waktu merupakan elemen krusial dalam event maraton, baik untuk keperluan prestasi maupun evaluasi personal peserta.
Ribuan Peserta Dirugikan
Dengan biaya pendaftaran Rp200 ribu (5K), Rp250 ribu (10K), dan Rp300 ribu (21K), para peserta menilai pelayanan yang diterima tidak sebanding dengan biaya yang dibayarkan. Secara keseluruhan, lebih dari 2.000 peserta merasa dirugikan, baik secara materiil maupun pengalaman.
Citra Daerah Tercoreng
Alih-alih mengangkat citra sport tourism Bangka Belitung, kegagalan penyelenggaraan Babel Half Marathon 2026 justru mencoreng nama baik daerah di mata komunitas pelari nasional.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Yayasan Bangka Buana Cipta (BBC) selaku penyelenggara masih dalam upaya klarifikasi resmi tim media terkait berbagai keluhan dan dugaan kelalaian tersebut.
Publik kini menanti tanggung jawab dan transparansi panitia, agar kepercayaan terhadap event olahraga di Bangka Belitung tidak runtuh sepenuhnya. Jika tidak, Babel Half Marathon 2026 berpotensi dikenang sebagai event ambisius yang gagal total dalam pelaksanaan.(Redaksi/JB 007 Babel)












